Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, saat menyampaikan pandangan dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk “Konektivitas, Teknologi, dan Mobilitas Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” di Kompleks Parlemen RI, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
JAKARTA, Lintaslestari.news — Memperingati Hari Perhubungan Nasional dengan tema “Indonesia Terkoneksi, Indonesia Maju”, Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, menekankan pentingnya membangun sistem perhubungan nasional yang terintegrasi, aman, terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan sebagai salah satu fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Hal tersebut disampaikan Ibas dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk “Konektivitas, Teknologi, dan Mobilitas Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar di Ruang Delegasi Lantai 2, Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen RI, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2026). Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di bidang transportasi, mulai dari pemerintah, operator transportasi publik, dunia usaha, akademisi, praktisi, hingga generasi muda.
Transportasi dan Konektivitas Nasional
Menurut Edhie Baskoro, Hari Perhubungan Nasional tidak semestinya hanya menjadi momentum seremonial. Perhubungan merupakan bagian strategis dari pembangunan nasional karena menyangkut bagaimana manusia, barang, informasi, dan kesempatan dapat bergerak secara efisien di seluruh wilayah Indonesia.
“Ketika kita berbicara tentang perhubungan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang luas, jumlah penduduk besar, serta pusat-pusat pertumbuhan yang tersebar membutuhkan sistem konektivitas yang mampu menjembatani berbagai wilayah secara efektif.
Pada saat yang sama, pembangunan konektivitas harus dilakukan dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya fiskal negara serta kebutuhan pembiayaan sektor lainnya, seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, pertahanan, energi, pangan, dan infrastruktur.
Karena itu, menurut Ibas Yudhoyono, tantangan pembangunan transportasi nasional tidak semata-mata terletak pada pembangunan infrastruktur baru, tetapi juga bagaimana menciptakan arsitektur pembiayaan jangka panjang yang memungkinkan pembangunan konektivitas dilakukan secara konsisten.
“Kalau kita serius membangun konektivitas menuju 2045, kita tidak bisa berpikir hanya dalam siklus satu tahun anggaran. Kita membutuhkan pembiayaan multiyears,” katanya.
Ia menyebut APBN dan APBD perlu berperan sebagai pemicu, sementara BUMN, skema KPBU, investasi swasta, serta pembiayaan pembangunan dapat menjadi bagian dari ekosistem pembiayaan konektivitas nasional.
Menurutnya, yang perlu menjadi perhatian bukan sekadar besarnya anggaran, tetapi bagaimana setiap rupiah yang diinvestasikan menghasilkan nilai ekonomi dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dari Project Menjadi System
Dalam diskusi tersebut, EBY juga menyoroti pentingnya perubahan cara pandang dalam pembangunan infrastruktur transportasi.
Indonesia, kata dia, perlu bergeser dari pendekatan yang berorientasi pada proyek menuju pendekatan yang berorientasi pada sistem.
“Bukan hanya bertanya, berapa kilometer jalan yang kita bangun? Tetapi berapa waktu yang kita hemat untuk rakyat,” ujarnya.
Demikian pula dengan pembangunan pelabuhan. Ukuran keberhasilannya tidak hanya pada jumlah pelabuhan yang dimiliki, tetapi juga seberapa cepat dan efisien barang dapat bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Pendekatan serupa juga perlu diterapkan terhadap seluruh moda transportasi, termasuk jalan raya, kereta api, pelabuhan, dan bandara.
“Jalan tidak boleh berdiri sendiri. Pelabuhan tidak boleh berdiri sendiri. Bandara tidak boleh berdiri sendiri. Kereta api tidak boleh berdiri sendiri. Semuanya harus menjadi satu sistem perhubungan nasional,” tegasnya.
Ia menilai integrasi antarmoda menjadi semakin penting di tengah kebutuhan untuk meningkatkan daya saing ekonomi, menekan biaya logistik, mengurangi waktu tempuh, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Teknologi Harus Membangun Ekosistem
Transformasi teknologi juga menjadi bagian penting dalam pembangunan transportasi masa depan.
Memasuki era kecerdasan artifisial (AI), kendaraan listrik, smart port, smart airport, digital logistics, dan intelligent transportation system, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan efisiensi mobilitas.
Namun, transformasi tersebut tidak boleh berhenti pada pembelian teknologi.
“Kita jangan hanya membeli teknologinya. Kita harus membangun ekosistemnya,” ujar Dr. EBY.
Menurut lulusan Nanyang Technological University tersebut, integrasi data, integrasi layanan, serta sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi prasyarat agar pemanfaatan teknologi benar-benar menghasilkan layanan transportasi yang lebih mudah, cepat, dan efisien bagi masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa transformasi digital perlu berjalan beriringan dengan penguatan sumber daya manusia serta kesiapan institusi dan regulator.
Mobilitas yang Aman, Terjangkau, Inklusif, dan Berkelanjutan
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua MPR RI turut menyampaikan duka cita dan keprihatinan mendalam atas berbagai musibah transportasi yang terjadi, termasuk kecelakaan transportasi darat, laut, dan kereta api, serta peristiwa yang terjadi dalam peliputan erupsi Anak Gunung Krakatau.
Ia berharap seluruh peristiwa tersebut menjadi pembelajaran untuk terus memperkuat sistem keselamatan, mitigasi bencana, serta perlindungan bagi masyarakat maupun insan media.
“Semoga para korban yang wafat mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan, serta para korban yang masih dalam perawatan segera diberikan kesembuhan,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa kemajuan transportasi tidak boleh hanya diukur dari kecepatan mobilitas.
Indonesia membutuhkan sistem transportasi yang aman, terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan.
“Pembangunan berkelanjutan bukan berarti pembangunan yang lebih lambat. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang tidak memindahkan biayanya kepada generasi berikutnya,” katanya.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Diskusi Kebangsaan tersebut menghadirkan berbagai perspektif, antara lain akademisi dan pakar manajemen transportasi, operator transportasi publik, praktisi transportasi dan pengguna lintas moda, sektor swasta dan industri digital, pemerintah serta institusi pendidikan kedinasan, hingga perspektif perempuan dan generasi muda.
Keragaman perspektif tersebut dinilai penting karena persoalan konektivitas nasional tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja.
“Indonesia terlalu besar untuk dibangun oleh satu institusi,” ujar Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, BUMN, sektor swasta, perguruan tinggi, sektor keuangan, komunitas, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem transportasi nasional.
Pada kesempatan yang sama, sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrat turut memberikan pandangan. Anton Sukartono Suratto menekankan pentingnya memastikan pembangunan infrastruktur diikuti dengan perawatan dan pengelolaan yang berkelanjutan agar investasi yang telah dilakukan tetap optimal.
Faujia Helga Tampubolon menyoroti pentingnya pemerataan konektivitas dan kerja sama nyata antara pemerintah pusat dan daerah. “Bagaimana pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah pun harus nyata,” ujarnya.
Sementara itu, Wastam menekankan peran konektivitas transportasi dalam mendukung pergerakan logistik dan aktivitas ekonomi, khususnya melalui pengembangan jaringan transportasi yang saling terhubung.
Pada forum tersebut, perspektif generasi muda juga turut hadir. Puteri Indonesia Maharani Divaningtyas mengapresiasi forum yang mempertemukan pakar, profesional, penggerak NGO, dan generasi muda dalam satu ruang diskusi.
“Forum ini luar biasa karena menghadirkan berbagai perspektif. Harapannya, diskusi seperti ini dapat terus berkelanjutan dan menghasilkan kebijakan yang segera dieksekusi,” ujar Maharani.
Pada akhirnya, Ibas menegaskan bahwa makna Indonesia terkoneksi bukan sekadar memiliki lebih banyak jalan, rel, pelabuhan, atau bandara.
“Indonesia terkoneksi adalah ketika orang bisa bergerak, barang bisa bergerak, informasi bisa bergerak, dan kesempatan bisa bergerak,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan momentum Hari Perhubungan Nasional sebagai titik penguatan komitmen bersama dalam membangun konektivitas nasional.
“Mari kita hubungkan Indonesia. Mari kita gerakkan Indonesia. Mari kita majukan Indonesia. Indonesia terkoneksi, Indonesia maju,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Muhammad Lokot Nasution, S.T.; Harmusa Oktaviani, S.E.; H. Wastam, S.E.; H. Anton Sukartono Suratto, M.Si.; Dr. Hinca I.P. Pandjaitan XIII, S.H., M.H., ACCS.; Marwan Cik Asan; H. Achmad, M.Si.; H. Teuku Ibrahim, S.T., M.M.; serta Faujia Helga Br. Tampubolon.
(Humas MPR-RI)
Hari Perhubungan Nasional, Ibas Dorong Indonesia Terkoneksi dengan Transportasi Aman, Nyaman, Inklusif, dan Berkelanjutan







