Majene (Sulbar), Lintaslestari.news — Aktivitas penempaan besi masih menjadi denyut utama kehidupan warga Desa Pamboboran, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene. Dentingan palu yang menghantam besi panas terdengar hampir setiap hari, bukan sekadar sebagai rutinitas kerja, melainkan cerminan ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap tradisi yang telah bertahan sejak zaman kerajaan.
Sejak dahulu, sebagian besar penghasilan warga desa ini bersumber dari pembuatan parang melalui proses penempaan besi secara manual. Keterampilan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi fondasi utama ekonomi keluarga di Pamboboran. Hingga kini, aktivitas menempa besi tetap dilakukan sebagai mata pencaharian sekaligus warisan budaya yang dijaga keberlangsungannya.
Parang hasil tempaan warga Pamboboran digunakan untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari, terutama dalam aktivitas pertanian dan perkebunan. Keberadaan para pengrajin tidak hanya berperan dalam pemenuhan alat kerja masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak roda ekonomi desa serta penopang keberlangsungan hidup banyak keluarga.
Tradisi penempaan besi di Pamboboran memiliki nilai historis yang kuat. Sejak masa kerajaan, keterampilan ini telah menjadi bagian dari sistem kehidupan masyarakat setempat. Pengetahuan mengenai pemilihan bahan, proses pemanasan besi, hingga pembentukan bilah parang terus dijaga dan diajarkan dari generasi ke generasi sebagai bentuk tanggung jawab terhadap warisan leluhur.
Namun, di tengah perubahan zaman, keberlangsungan tradisi ini menghadapi berbagai tantangan. Masuknya produk pabrikan serta perubahan minat generasi muda menjadi persoalan yang turut memengaruhi kelangsungan kerajinan tempa besi tradisional. Meski demikian, sebagian warga memilih tetap bertahan, menjaga kualitas hasil kerja serta nilai-nilai tradisi yang melekat pada setiap parang yang dihasilkan.
Bagi masyarakat Desa Pamboboran, penempaan besi bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari identitas dan sejarah hidup. Selama api tungku masih menyala dan palu terus diayunkan, tradisi yang telah menghidupi warga sejak zaman kerajaan itu akan tetap dijaga sebagai sumber penghasilan sekaligus simbol ketahanan budaya lokal.
(RED)







