Muna(Sulawesi Tenggara), Lintaslestari.news –Belum lama ini kabupaten Muna provinsi Sulawesi Tenggara menjadi sorotan dunia internasional. Hal tersebut terkait penemuan lukisan cadas tertua di dunia berusia 67.800 tahun. Lukisan berupa stensil cap tangan itu ditemukan dalam gua Metanduno di desa Liangkabori kecamatan Lohia, melalui riset yang dilakukan Badan Riset Nasional (BRIN) bekerjasama dengan Griffith University dan Southern Cross University (Australia). serta melibatkan Kementrian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dan XIX, Universitas Hasanuddin, Universitas Haluoleo, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pasca temuan itu, lukisan cadas tersebut menjadi salah satu aset sejarah berharga untuk kabupaten Muna. Menurut Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muna, Hadi Wahyudi, saat ini pemerintah kabupaten Muna telah melakukan beberapa langkah strategis guna melindungi peninggalan bersejarah dimaksud.
“Untuk mencegah tindak vandalisme, saat ini telah dibuat pagar sekitar gua untuk mencegah orang masuk secara sembarangan. Selain itu sudah ada beberapa petugas dari balai pelestarian budaya yang berjaga khususnya di area gua Metanduno. Namun pemerintah masih terus berupaya meningkatkan keamanan disana,”jelas Wahyudi saat dikonfirmasi, Rabu (11/02/2026).
Wahyudi menambahkan, ke depan akan diberlakukan tiket masuk bagi pengunjung yang hendak melihat lukisan cadas berusia 67.800 tahun tersebut. “Langkah ini diambil agar pengunjung lebih terkontrol dan tak kalah penting ada data orang-orang yang masuk dalam area gua. Namun untuk sementara, ancaman tindak vandalisme ini masih bisa diantisipasi. Semua berkat kesadaran yang tinggi para pengunjung dan masyarakat sekitar,”ungkapnya.
Terkait rencana pengembangan kawasan gua Metanduno sebagai salah satu destinasi wisata yang mendunia, sejumlah hal masih perlu dilakukan seperti perbaikan akses jalan dan penataan area sekitar gua. “Jadi, hal terpenting saat ini adalah akses jalan. Selanjutnya kawasan sekitar gua juga masih harus ditata agar layak menjadi sebuah destinasi wisata sejarah yang menarik. Sebut saja, misalnya, ketersedian fasilitas umum seperti toilet, tempat beribadah, dan gazebo,”ujarnya.
Selain itu, kata Wahyudi, harus ada juga pusat informasi. “Intinya, kami berupaya desain wisata sejarah ini akan dibuat senatural mungkin, hingga orang yang datang berkunjung bisa mendapatkan pengetahuan serta pengalaman tentang gambaran kondisi masyarakat penghuni pulau Muna pada puluhan ribu tahun silam,”tutupnya.







