Sangihe (Sulawesi Utara) , Lintaslestari.news – Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di wilayah perbatasan Nusa Utara ditunjukkan oleh Kerukunan Keluarga Nusa Utara Indonesia (KKNUI) melalui penyaluran bantuan kemanusiaan kepada warga di Kampung Matutuang, Pulau Kawio, dan Marore.

Meski masih dalam proses pembentukan dan belum resmi dideklarasikan, KKNUI mengambil langkah cepat dengan menghimpun bantuan untuk membantu warga yang mengalami kesulitan akibat bencana tersebut. Penyaluran bantuan dipimpin langsung oleh Ketua Umum KKNUI, Hendrik Manossoh, S.E., M.Si., Ak., bersama jajaran pengurus organisasi.
Ketua Umum KKNUI Hendrik Manossoh, menjelaskan bantuan yang disalurkan merupakan hasil donasi yang dikumpulkan secara sukarela oleh anggota KKNUI setelah memperoleh informasi mengenai dampak gempa yang menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga di kawasan kepulauan terluar.
“Walaupun organisasi ini belum resmi dideklarasikan, semangat kepedulian dan solidaritas sudah tumbuh di antara para anggota. Ketika mendapat kabar tentang bencana yang terjadi di wilayah perbatasan, mereka secara spontan berinisiatif menggalang bantuan untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak,” ujar Hendrik saat diwawancarai Lintaslestari.news usai kegiatan, Selasa (23/6/2026).

Proses pengumpulan donasi dikoordinasikan oleh Bendahara Umum KKNUI, Irwan Hasan. Berkat partisipasi anggota serta dukungan dari berbagai pihak, bantuan dapat dihimpun dalam waktu relatif singkat dan segera didistribusikan kepada warga yang membutuhkan.
Dari hasil penggalangan dana tersebut, KKNUI menyiapkan paket bantuan untuk sekitar 100 kepala keluarga. Pada awalnya bantuan hanya direncanakan untuk masyarakat Pulau Kawio berdasarkan laporan awal yang diterima. Namun setelah diketahui bahwa dampak gempa juga dirasakan warga di Matutuang dan Marore, distribusi bantuan diperluas dan dibagi secara proporsional kepada ketiga wilayah terdampak.
Setiap paket bantuan berisi kebutuhan pokok berupa lima kilogram beras, satu kilogram gula pasir, minyak goreng, dan kopi. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa pemulihan pascabencana.

Hendrik mengakui bahwa bantuan yang diberikan belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan warga yang terdampak. Namun demikian, kehadiran KKNUI di tengah masyarakat diharapkan dapat menjadi bentuk dukungan moral sekaligus wujud nyata kepedulian terhadap sesama.
“Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban masyarakat yang terdampak. Nilainya mungkin tidak besar, tetapi yang terpenting adalah hadirnya rasa kebersamaan dan semangat saling membantu ketika saudara-saudara kita sedang menghadapi musibah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Hendrik menyampaikan bahwa KKNUI yang dalam waktu dekat akan dideklarasikan secara resmi berkomitmen menjadi wadah pemersatu masyarakat Nusa Utara serta berperan aktif dalam memperjuangkan berbagai aspirasi masyarakat secara independen dan konstruktif.
“Kami ingin membangun organisasi yang tidak hanya hadir dalam situasi darurat, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui berbagai program sosial dan kemasyarakatan. Nilai pengabdian, solidaritas, dan kepedulian akan menjadi landasan utama dalam setiap langkah organisasi,” tutupnya.
(Yosua Patras )







