Buton Tengah, Lintaslestari.news- Pengurus PKK Kabupaten Buton Tengah bersama sejumlah organisasi kemasyarakatan menggelar kegiatan silaturahmi yang dirangkaikan dengan tausiah keagamaan di pelataran Rumah Jabatan Bupati Buton Tengah, Rabu (8/4/2026).
Kegiatan ini menghadirkan ustadz Dr. Maulana La Eda, Lc, MA dengan mengangkat tema “Penguatan Nilai-Nilai Islam dalam Keluarga untuk Membentuk Generasi Buton Tengah yang Beriman, Bertakwa, dan Berakhlak Mulia.”
Acara tersebut dihadiri oleh Bupati Buton Tengah Dr. Azhari, S.STP, M.Si, Wakil Bupati Muh. Adam Basan, S.Sos, Ketua TP-PKK Buton Tengah Umi Noranah Azhari, S.Pd, Staf Ahli PKK Kartini Adam Basan, serta perwakilan organisasi perempuan seperti DWP, Dekranasda, Bhayangkari, BKMT, Majelis Taklim, Muslimat NU, Aisyiyah, dan para guru SD serta SMP se-Buton Tengah.
Dalam sambutannya, Bupati Azhari menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dan batin melalui kedekatan dengan Allah SWT. Ia menyampaikan bahwa kemajuan ekonomi dan status sosial tidak selalu menjamin kebahagiaan sejati apabila hati terasa kosong.
“Kebahagiaan sejati bukan terletak pada kemewahan, melainkan pada ketenangan batin. Jika kita lalai mengingat Allah, maka hati akan terasa hampa meski segala kebutuhan materi tercukupi,” ujarnya.
Bupati juga mengingatkan pentingnya bekal iman sejak dini sebagai persiapan menghadapi masa tua. Menurutnya, dukungan keluarga dapat berkurang seiring waktu, sehingga keimanan dan konsistensi ibadah menjadi penopang utama di masa senja.
“Ilmu agama dan ibadah seperti salat akan menjadi penjaga kita ketika fisik sudah tidak lagi kuat. Jangan sampai kita kehilangan pegangan spiritual di usia tua,” tambahnya.
Sementara itu, dalam tausiahnya, Ustadz Maulana La Eda menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai Islam dalam keluarga bukanlah hal baru dalam sejarah Buton. Ia mengaitkan tema tersebut dengan visi Kesultanan Buton pada masa La Ode Muhammad Idrus Kaimuddin yang menjadikan wilayah Buton sebagai pusat pendidikan Islam.
Ia menjelaskan, pada masa pemerintahan Sultan Idrus Kaimuddin, terdapat sejumlah pusat studi keislaman (zawiyah) yang berfungsi layaknya pesantren. Namun, perkembangan tersebut terhenti akibat pengaruh kolonial Belanda.
“Visi menjadikan Buton sebagai wilayah ulama dan santri perlu kita lanjutkan. Apa yang dicanangkan pemerintah daerah hari ini sejalan dengan cita-cita para pendahulu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai benteng utama dalam membentuk generasi beriman. Menurutnya, pendidikan agama dalam keluarga harus menjadi prioritas utama, bahkan melebihi aspek materi.
“Mendidik anak dengan nilai agama jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi kebutuhan materi. Keluarga harus menjadi penjaga iman, amal saleh, dan akhlak anak-anak,” tegasnya.
Ia juga mengajak orang tua untuk lebih memperhatikan kehidupan spiritual anak, seperti kebiasaan salat, mengaji, dan lingkungan pergaulan. Selain itu, ia menekankan pentingnya keteladanan orang tua dalam membentuk karakter anak.
“Kualitas generasi sangat ditentukan oleh kualitas keluarga. Jika ingin anak menjadi saleh, maka orang tua harus terlebih dahulu memperbaiki diri,” katanya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, sekaligus mendukung visi Pemerintah Kabupaten Buton Tengah dalam mewujudkan daerah sebagai kota santri dan kota pendidikan.







