Jakarta, Lintaslestari.news — Di balik pertandingan Hapkido yang berlangsung cepat, keras, dan penuh tekanan, ada sosok-sosok yang justru dituntut tetap tenang. Salah satunya adalah Jembry Rumampuk, putra Minahasa, Sulawesi Utara, yang baru saja menuntaskan tugas sebagai Wasit Nasional Hapkido Indonesia pada Kejuaraan Nasional Hapkido Indonesia IX di GOR Siger Way Halim, Bandar Lampung, 26–27 September 2026.
Kehadiran Jembry di jajaran perangkat pertandingan nasional bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Jejak yang dapat ditelusuri menunjukkan perjalanan panjangnya di dunia bela diri: pernah menjadi atlet, kemudian pelatih, dan kini dipercaya sebagai wasit nasional.
Pada Kejurnas Hapkido 2017 di Yogyakarta, Jembry masih berada di sisi lain arena. Ia turun sebagai atlet Sulawesi Utara pada kategori Daeryun dan berhasil meraih medali perak. Catatan tersebut menjadi bagian dari periode awal tumbuhnya Hapkido Sulut di tingkat nasional.
Perjalanannya kemudian berkembang dari seorang petarung menjadi pembina. Menjelang Kejurnas VII Hapkido Indonesia di Semarang pada November 2024, nama Jembry Rumampuk dipercaya menjadi salah satu dari tiga pelatih Hapkido Sulawesi Utara, bersama Thio Mantik dan Kezia Umboh. Saat itu Sulut membawa 25 atlet senior, junior dan kadet sebagai bagian dari proses regenerasi setelah PON XXI Aceh–Sumut.
Rekam jejaknya sebagai perangkat pertandingan juga terdokumentasi. Dalam dokumen perangkat pertandingan PON, nama Jembry Rumampuk tercantum sebagai “Tenaga Teknis – Wasit Nasional.” Ini memperkuat bahwa status wasit nasional yang disandangnya bukan sekadar penyebutan dalam kegiatan daerah, tetapi telah digunakan dalam perangkat pertandingan pada level olahraga nasional.
Menariknya, kompetensi Jembry tidak hanya berada dalam lingkungan Hapkido. Pada 2025 ia tercatat sebagai Master Jembry Rumampuk Palit, DAN 5, sekaligus Ketua Taekwondo Jidokwan Indonesia Sulawesi Utara dalam kegiatan latihan bersama sabuk hitam dan senior di Manado. Fakta ini menunjukkan basis pengalaman bela dirinya yang cukup panjang dan lintas peran.
Bertugas di tengah Kejurnas terbesar
Tugas di Lampung memiliki bobot tersendiri. Kejurnas IX berlangsung di GOR Siger, Bandar Lampung, 26–27 September 2026, mempertandingkan kategori Junior dan Senior. KONI Lampung mencatat kejuaraan tersebut sekaligus menjadi ruang evaluasi tata kelola pertandingan, termasuk kesiapan SDM dan mekanisme pertandingan.
Data jumlah peserta yang dipublikasikan memang sedikit berbeda antar-sumber. Pemberitaan menjelang pertandingan menyebut sekitar 600 atlet dari 17 provinsi, sedangkan laporan setelah pelaksanaan menyebut sekitar 635 peserta—hampir 600 atlet dan ofisial—dari sekitar 18 provinsi. Karena itu, angka yang paling aman adalah menyebut Kejurnas IX diikuti sekitar 600 atlet dengan peserta dari sedikitnya 17 provinsi.
Dalam skala pertandingan sebesar itu, kualitas wasit menjadi bagian penting. Ketua Pengprov Hapkido Indonesia Lampung, Ida Bagus Wiguna, bahkan menegaskan bahwa Kejurnas bukan hanya memberikan pengalaman kepada atlet, tetapi juga meningkatkan pengalaman pengurus, pelatih, dan wasit dalam penyelenggaraan pertandingan tingkat nasional.
Di titik inilah perjalanan Jembry menjadi menarik.
Ia memahami pertandingan bukan hanya dari kursi wasit. Ia pernah berdiri sendiri di arena sebagai atlet. Ia pernah berada di sisi matras sebagai pelatih. Dan kini ia berdiri sebagai orang yang harus menjaga agar pertandingan berjalan sesuai aturan.
Pengalaman sebagai mantan atlet memberi perspektif tersendiri: memahami tekanan ketika seorang atlet mengejar angka, membaca momentum serangan, dan mengetahui betapa sebuah keputusan wasit dapat menjadi bagian penting dalam pertandingan. Namun ketika mengenakan atribut wasit, seluruh pengalaman itu harus tunduk pada satu prinsip: netralitas dan penerapan peraturan pertandingan.
Karena pada akhirnya tugas wasit bukan menciptakan juara.
Tugas wasit adalah memastikan bahwa ketika seorang atlet dinyatakan juara, kemenangan itu diperoleh melalui pertandingan yang adil, aman, sportif dan sesuai aturan.
Itulah makna yang tepat dari kalimat yang menyertai sosok Jembry seusai menjalankan tugasnya di Lampung:
“Wasit bukan penentu siapa yang harus menang. Wasit adalah penjaga agar kemenangan diraih dengan benar.”
Bagi Sulawesi Utara, perjalanan Jembry Rumampuk juga memperlihatkan sisi lain pembangunan olahraga prestasi. Keberhasilan sebuah daerah tidak cukup hanya diukur dari berapa banyak medali yang dibawa pulang atlet. Ekosistem olahraga yang kuat juga membutuhkan pelatih berkualitas, wasit berlisensi, tenaga teknis, pengurus dan regenerasi SDM olahraga.
Jembry telah menjalani beberapa sisi dari ekosistem tersebut: peraih medali perak Kejurnas sebagai atlet pada 2017, pelatih kontingen Sulut pada 2024, hingga menjalankan peran sebagai Wasit Nasional.
Kini Kejurnas IX Lampung telah selesai. Para atlet pulang membawa medali dan pengalaman. Jembry Rumampuk pulang membawa sesuatu yang berbeda: kepercayaan untuk ikut menjaga kualitas pertandingan Hapkido Indonesia.
Dari Minahasa, Sulawesi Utara, ia tidak lagi hanya hadir untuk mengejar kemenangan.
Ia hadir untuk menjaga agar kemenangan itu diraih dengan benar.
Jembry Rumampuk — dari petarung, menjadi pelatih, kemudian berdiri sebagai penjaga sportivitas di arena nasional.
.
Ayo dukung Visi besar Bapak Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI purn Yulius Selvanus Komaling SE untuk memajukan olahraga petarung di Sulawesi Utara. Satu Komando – Petarung!
.
#JembryRumampuk #WasitNasional #HapkidoIndonesia #HapkidoSulut #KejurnasHapkidoIX #KejurnasHapkido2026 #HapkidoIndonesia2026 #Minahasa #SulawesiUtara #SulutHebat #Sportivitas #FairPlay #WasitHapkido #PrestasiSulut #OlahragaSulut #DariSulutUntukIndonesia #PetarungSulut #BanggaSulawesiUtara #SehatSemangatLuarBiasa
Jembry Rumampuk: Dari Peraih Medali, Pelatih, hingga Wasit Nasional Hapkido Indonesia







