Lintaslestari.news – Kini jalannya sudah jadi, rapi, bagus dan bisa dilewati siapa saja…
kecuali mereka yang dulu sibuk berjanji tapi tak pernah datang.
Lucu memang, saat rakyat mampu membangun tanpa kekuasaan, justru kekuasaan yang kehilangan jalan.
Ke mana perginya miliaran rupiah anggaran daerah yang saban tahun diketuk palu?
Apakah habis menguap dalam rapat-rapat dinas di hotel mewah, sementara rakyat harus patungan membeli semen demi menyelamatkan nyawa di jalanan?
Ini bukan lagi sekadar abai, ini adalah bentuk pembiaran yang keterlaluan. Ketika birokrasi lumpuh oleh kemalasan, rakyat membuktikan bahwa perubahan tidak butuh tanda tangan bupati, tapi butuh hati nurani yang bersih.
Kini jalannya sudah jadi, rapi, bisa dilewati siapa saja…
kecuali mereka yang dulu sibuk berjanji tapi tak pernah datang.
Pemerintah daerah mungkin punya mata,
tapi buta melihat kubangan lumpur yang tiap hari dilewati warganya.
Mereka mungkin punya telinga, tapi tuli mendengar jeritan ambulans yang terguncang membawa orang sakit.
Sungguh ironis, pejabat digaji dari keringat pajak rakyat, tapi untuk urusan paling mendasar saja mereka harus ‘didikte’ oleh aksi swadaya.
Jangan pernah sebut diri Anda ‘pemimpin’ jika duduk di kursi empuk hanya untuk memelihara ketidakpedulian.
Jalan yang mulus ini adalah tamparan keras bagi wajah-wajah di baliho pemilu yang sebentar lagi akan bertebaran. Saat rakyat menderita karena akses yang rusak, kalian bersembunyi di balik tameng prosedur dan birokrasi yang berbelit. Pemerintah daerah telah gagal menjalankan fungsi paling primitifnya: melayani. Jika membangun fasilitas publik saja rakyat harus bergerak sendiri, lalu untuk apa kami masih memelihara sistem pemerintahan yang mandul ini?..
…
Oh iya, gambar hanya pemanis untuk mereka yang “telah mati hati nurani”.
Kini jalannya sudah jadi, rapi, bisa dilewati siapa saja… kecuali mereka yang dulu sibuk berjanji tapi tak pernah datang..
(Red)







