Serangan Bom Gereja membuat panik umat Katolik di Papua Tengah

19 Mei , 2026 Intan Jaya ( Papua Tengah ) Lintaslestari.news – Foto ini menunjukkan dua dari empat korban luka dalam serangan bom udara melalui drone di Gereja Stasi St. Paulus Nabuni di Desa Mbamogo, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, pada 17 Mei.

dua warga sipil dikhawatirkan meninggal dan dua lainnya luka-luka setelah serangan bom udara dengan menggunakan drone di halaman gereja Katolik di Provinsi Papua Tengah, memicu kepanikan di kalangan umat setempat.
Insiden itu terjadi sekitar pukul 11.30 pagi pada 17 Mei ketika umat berkumpul di halaman Gereja Stasi St. Paulus Nabuni, Paroki Santo Mikael Bilogai, Kabupaten Intan Jaya.
“Kami baru saja selesai Misa, dan tiba-tiba, sebuah benda jatuh dari udara lalu meledak. Pecahan ledakan mengenai beberapa orang,” kata seorang saksi mata yang meminta namanya dirahasiakan karena alasan keamanan.
Empat orang mengalami luka serius dan diidentifikasi sebagai Petrus Pogau, Robert Nabelau, Pius Pogau, dan Piter Nabelau.
Mereka diberikan pertolongan pertama di gereja stasi tersebut, yang berada di bawah naungan Paroki Santo Mikael Bilogai, Keuskupan Timika.
“Kemarin kami hanya bisa membawa dua korban ke rumah sakit. Kami berencana membawa dua korban lagi ke rumah sakit hari ini,” kata Pastor Yanuarius Yance Yogi, imam paroki Bilogai, pada 18 Mei.
Imam itu mengatakan bahwa drone sering terlihat terbang di atas wilayah tersebut.
“Namun kami tidak dapat memastikan apakah drone itu digunakan untuk serangan tersebut,” kata Pastor Yance Yogi kepada UCA News.
Ia menjelaskan insiden itu “sangat menakutkan,” seraya menambahkan bahwa “orang bisa meninggal kapan saja dan di mana saja.”
Para kepala desa dilaporkan mengadakan pertemuan darurat untuk menyatakan keprihatinan atas keselamatan umat dan menyerukan penyelidikan transparan untuk mencegah rumor meningkatkan ketegangan.
Laporan yang beredar di media sosial mengatakan dua dari korban luka telah meninggal dan menuduh bahwa TNI telah melakukan pemboman tersebut.
Tidak ada konfirmasi independen atas informasi ini, maupun pernyataan resmi dari TNI mengenai dugaan keterlibatan atau penggunaan drone dalam insiden tersebut.

Namun, terdapat laporan baru-baru ini tentang penggunaan drone di zona konflik di Papua.
Pada 5 April tahun lalu, BBC melaporkan bahwa drone TNI menyerang anggota Gerakan Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
Drone digunakan untuk menjatuhkan granat, tetapi tampaknya granat tersebut meledak sebelum mencapai targetnya, menurut laporan tersebut.
Serangan drone lainnya menewaskan satu warga sipil dan melukai satu lainnya di Jalan Gunung, Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo pada 25 November tahun lalu, menurut laporan media lokal.
Serangan bom dengan menggunakan drone terakhir dilaporkan terjadi di Sekretariat Pusat Komite Nasional Papua Barat pada 16 Maret.
Agus Kossay, ketua Komite Nasional Papua Barat, mengatakan bahwa serangan berulang, dengan metode yang semakin canggih, menunjukkan keterlibatan kelompok terorganisir tertentu.
“Rangkaian serangan ini, mulai dari penggunaan bom rakitan dan drone untuk mengintimidasi jurnalis dan aktivis hak asasi manusia, merupakan bentuk teror terbuka yang mengancam kebebasan pers dan ruang demokrasi di Papua,” katanya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *