Mutasi Pejabat Kejati Jateng: Andhie Fajar Jadi Asintel, Edi Winarko Jabat Aswas

Semarang, Lintaslestari.news – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah kembali melakukan rotasi pejabat strategis. Sejumlah pejabat eselon III resmi menempati posisi baru setelah menjalani pelantikan dan serah terima jabatan di Kantor Kejati Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis (8/10/2026).

Dua posisi penting yang mengalami pergantian yakni Asisten Intelijen (Asintel) dan Asisten Pengawasan (Aswas) Kejati Jawa Tengah. Andhie Fajar Arianto dipercaya mengemban tugas sebagai Asintel, sementara Edi Winarko mendapat amanah sebagai Aswas Kejati Jawa Tengah.

Selain itu, rotasi juga menyentuh jajaran kejaksaan negeri. Sulasman resmi dilantik dan diambil sumpahnya sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Banjarnegara.

Prosesi pelantikan dan serah terima jabatan dipimpin Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Jawa Tengah, Waito Wongateleng.

Dalam amanatnya, Waito menegaskan bahwa pelantikan bukan sekadar pergantian jabatan dalam struktur organisasi. Menurutnya, setiap jabatan membawa tanggung jawab dan amanah yang harus dijalankan dengan penuh integritas.

“Pelantikan bukan sekadar pergantian nama dan jabatan pada sebuah struktur organisasi. Pelantikan adalah penyerahan kepercayaan, penyerahan tanggung jawab dan yang paling penting adalah penyerahan amanah,” tegas Waito.

Ia meminta para pejabat yang baru dilantik segera beradaptasi dengan lingkungan kerja, memahami tugas dan kewenangan, memetakan persoalan yang ada, serta menyiapkan langkah mitigasi agar roda organisasi tetap berjalan optimal.

Segera pelajari, segera pahami, segera petakan permasalahan, segera lakukan mitigasi dan segera bekerja. Organisasi tidak boleh berhenti hanya karena pergantian pejabat,” pesannya.

Kepada Asintel Kejati Jateng yang baru, Andhie Fajar Arianto, Waito menekankan pentingnya memperkuat fungsi intelijen dalam mendeteksi dan memetakan berbagai potensi ancaman, gangguan, hambatan, maupun tantangan yang dapat memengaruhi pelaksanaan tugas kejaksaan.

Menurutnya, kemampuan deteksi dan peringatan dini harus terus ditingkatkan agar jajaran intelijen mampu memberikan informasi yang cepat, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada pimpinan.


Selain itu, bidang intelijen juga didorong memperluas jejaring komunikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak. Hal itu guna memperkuat fungsi pengumpulan informasi serta mendukung pengambilan kebijakan.

Sementara itu, kepada Aswas Kejati Jateng Edi Winarko, Waito menegaskan bahwa pengawasan tidak boleh hanya dipahami sebagai mekanisme pemeriksaan semata.

Ia menilai, fungsi pengawasan harus menjadi instrumen penting untuk menjaga integritas, disiplin, profesionalisme dan tanggung jawab seluruh insan Adhyaksa.


Pengawasan bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi merupakan bagian penting dari upaya menjaga marwah dan kehormatan institusi,” ujarnya.

Menurut Waito, setiap pelanggaran disiplin harus ditindak secara objektif, profesional, proporsional dan berkeadilan. Dengan demikian, fungsi pengawasan dapat berjalan efektif sekaligus mendorong terciptanya budaya kerja yang sehat di lingkungan kejaksaan.

Kajari Banjarnegara Diminta Segera Konsolidasi

Kepada Kajari Banjarnegara yang baru dilantik, Waito meminta agar segera melakukan konsolidasi internal dan membangun kepemimpinan yang tegas dalam prinsip, terbuka dalam komunikasi, serta mampu menjadi teladan bagi jajaran di bawahnya.


Jangan hanya menjadi pimpinan yang memberikan perintah. Jadilah pimpinan yang hadir ketika anak buah membutuhkan arahan, hadir ketika organisasi menghadapi persoalan, dan hadir paling depan ketika institusi membutuhkan ketegasan,” pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberadaan pimpinan di wilayah kerja merupakan bagian dari tanggung jawab jabatan. Karena itu, setiap pimpinan diminta memahami dan mematuhi ketentuan kedinasan, termasuk saat meninggalkan wilayah kerja maupun menjalankan perjalanan dinas.

Selain itu, Waito juga mengajak seluruh jajaran Kejati Jawa Tengah dan satuan kerja di wilayah hukumnya untuk terus memperkuat soliditas dan menjaga integritas institusi.


Menurutnya, soliditas bukan sekadar kebersamaan dalam bekerja, melainkan fondasi untuk membangun institusi yang kuat, profesional dan dipercaya masyarakat.

“Jabatan adalah amanah, bukan sekadar kehormatan. Setiap penugasan harus dijalankan dengan integritas dan moral agar marwah institusi senantiasa terjaga,” pungkas Waito.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *