Buru ,Namlea, (MALUKU) Lintaslestari.news Sabtu, 28/3/2026– Dukungan terhadap gagasan pembukaan akses feri menuju Batabual terus menguat. Kali ini datang dari tokoh muda Buru yang kini menetap di Jakarta, Dois Wamese, yang menilai langkah Ketua DPD NasDem Kabupaten Buru, Muhamad Daniel Rigan, sebagai terobosan yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak.
Menurut Dois, wacana menghadirkan transportasi feri dari Namlea ke Batabual merupakan solusi konkret di tengah lambannya realisasi pembangunan akses darat. Ia menegaskan bahwa pendekatan bertahap seperti ini justru menunjukkan keberpihakan pada kebutuhan riil masyarakat.
“Ketika jalan darat belum bisa segera diwujudkan, maka laut harus dijadikan penghubung utama. Ini bukan soal pilihan, tetapi kebutuhan,” ujar Dois dalam pandangannya.
Ia menilai, selama ini masyarakat Batabual menghadapi tantangan serius dalam mobilitas dan distribusi hasil produksi. Ketergantungan pada transportasi laut skala kecil seperti speed boat bukan hanya mahal, tetapi juga menyimpan risiko keselamatan. Dalam konteks ini, kehadiran feri akan menjadi jawaban atas persoalan mendasar: aksesibilitas yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Dois melihat bahwa langkah yang diinisiasi oleh Muhamad Daniel Rigan tidak hanya berdampak pada konektivitas, tetapi juga pada kebangkitan ekonomi lokal. Dengan terbukanya jalur distribusi yang lebih efisien, hasil perkebunan, perikanan, dan komoditas unggulan lainnya dari Batabual dapat memiliki nilai tambah yang lebih besar di pasar lokal.
Namun, dukungan tersebut tidak berhenti pada isu Batabual semata. Dois juga mengingatkan pemerintah daerah agar tidak mengabaikan persoalan akses jalan menuju Danau Rana di Kecamatan Fena Leisela. Sebagai salah satu kawasan strategis dengan potensi besar, baik dari sisi pariwisata maupun sumber daya alam, Danau Rana dinilai membutuhkan perhatian serius dalam hal infrastruktur.
“Danau Rana adalah aset besar Buru yang belum sepenuhnya tergarap. Akses jalan yang memadai akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, sekaligus mendorong sektor pariwisata daerah,” tegasnya.
Dalam perspektif yang lebih luas, Dois menekankan bahwa pembangunan di Buru harus dilakukan secara merata dan terintegrasi. Tidak cukup hanya fokus pada satu wilayah, tetapi perlu ada visi besar yang menghubungkan seluruh potensi daerah melalui infrastruktur yang memadai.
Dukungan dari kalangan muda dan tokoh adat seperti Dois Wamese menjadi sinyal bahwa harapan masyarakat terhadap percepatan pembangunan akses bukan sekadar aspirasi sesaat, melainkan kebutuhan yang telah lama terpendam. Pemerintah daerah kini dihadapkan pada momentum penting untuk membuktikan komitmennya.
Apa yang disuarakan Muhamad Daniel Rigan telah membuka ruang diskusi publik. Sementara dukungan dari Dois Wamese memperkuat legitimasi moral bahwa kebijakan ini memang berpihak pada rakyat.
Pada akhirnya, pembangunan yang berpihak bukanlah tentang janji, melainkan tentang keberanian mengambil langkah nyata. Membuka akses feri ke Batabual dan memperbaiki jalan menuju Danau Rana adalah bagian dari tanggung jawab itu—tanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada lagi wilayah di Buru yang tertinggal dalam sunyi.(IB)







